Ilustrasi--Seorang master menyuntikkan vaksin balang kepada balita di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/3/2026).(ANTARA/Raisan Al Farisi)
PENYAKIT campak tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak di Indonesia lantaran tingkat penularannya nan sangat tinggi. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K), mengingatkan orangtua untuk mewaspadai tiga stadium indikasi unik nan muncul saat anak terinfeksi virus ini.
Dalam sebuah seminar media daring, Sabtu (5/4), Prof. Anggraini menjelaskan bahwa balang bukan sekadar ruam biasa, melainkan penyakit sistemik nan berkembang melalui fase-fase tertentu. Memahami fase ini sangat krusial agar penanganan medis bisa dilakukan tepat waktu dan mencegah penularan lebih luas.
Mengenal 3 Stadium Gejala Campak
Menurut Prof. Anggraini, perjalanan penyakit balang terbagi menjadi tiga tahap utama, mulai dari indikasi awal mirip flu hingga fase pengobatan nan khas.
| 1. Prodromal (Awal) | Demam tinggi dan indikasi "3C" (Coryza, Cough, Conjunctivitis). | Munculnya Koplik's spot (bintik putih di area mulut) sebelum ruam keluar. |
| 2. Erupsi (Puncak) | Munculnya ruam kemerahan nan menyebar secara bertahap. | Ruam mulai dari pemisah rambut (belakang telinga), turun ke badan, hingga ke lengan dan tungkai. |
| 3. Konvalesens (Penyembuhan) | Ruam berubah warna menjadi gelap (hiperpigmentasi). | Kulit mengering, mengelupas, dan tampak bersisik sebelum akhirnya hilang. |
Penularan Lewat Udara nan Sangat Cepat
Satu perihal nan perlu diwaspadai adalah sifat virus balang nan menular melalui udara (airborne). Prof. Anggraini menekankan bahwa penularan tidak kudu melalui sentuhan langsung, melainkan lewat percikan saat penderita batuk, bersin, alias apalagi sekadar berbicara.
“Penularan balang itu bukan main. Mirip seperti TBC, bayangkan dari satu orang bisa menularkan ke 18 orang lainnya,” ujar Prof. Anggraini.
Virus ini bisa melayang di udara hingga lebih dari dua jam dan memperkuat di permukaan barang alias debu, terutama di lingkungan nan lembap dan minim ventilasi.
Masa inkubasi virus ini bisa mencapai tiga minggu. Artinya, seseorang bisa saja sudah membawa virus tanpa menunjukkan indikasi apa pun, namun sudah berpotensi menularkan kepada orang lain di sekitarnya.
Imunisasi: Benteng Utama Cegah KLB
Untuk mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), suatu wilayah wajib mencapai kekebalan golongan (herd immunity) minimal 94 persen. Jika cakupan imunisasi berada di bawah nomor tersebut, akibat ledakan kasus balang bakal meningkat tajam.
Pemerintah telah menetapkan agenda imunisasi balang sebanyak tiga kali untuk memastikan perlindungan optimal bagi anak:
- Dosis Pertama: Usia 9 bulan.
- Dosis Kedua: Usia 18 bulan.
- Dosis Ketiga: Kelas 1 Sekolah Dasar (SD).
Prof. Anggraini mengimbau para orang tua untuk segera melengkapi status imunisasi anak mereka, terutama sebelum memasuki Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
"Satu kasus balang saja bisa menularkan ke mana-mana. Jika ada nan terlewat, segera lakukan imunisasi kejar," pungkasnya. (Ant/Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·