
resep tempe bacem | foto ilustrasi: Gemini AI
- Tempe bacem jadi salah satu lauk unik Jawa nan punya rasa manis gurih dengan aroma rempah nan khas. Teksturnya empuk, warnanya cokelat keemasan, dan rasanya makin nikmat jika dimakan dengan nasi hangat plus sambal. Menu ini juga cocok jadi stok lauk lantaran bisa disimpan dan digoreng kapan saja.
Kunci tempe bacem nan lezat ada di proses perebusan ramuan nan betul agar meresap sampai ke dalam. Selain itu, penggunaan air kelapa dan gula merah juga bikin rasa lebih autentik. Dengan langkah nan tepat, Anda bisa bikin tempe bacem rumahan nan rasanya nggak kalah dari warung makan.
Bahan
- 1 papan tempe, pangkas sesuai selera
- 500 ml air kelapa (atau air biasa)
- 3 siung bawang putih
- 5 siung bawang merah
- 2 lembar daun salam
- 2 cm lengkuas, geprek
- 1 sdm ketumbar
- 1 sdt garam
- 2 sdm gula merah, serut
- 1 sdm kecap manis
- Minyak untuk menggoreng
Cara Membuat
1. Haluskan bawang putih, bawang merah, dan ketumbar.
2. Susun tempe di dalam panci, lampau masukkan ramuan halus.
3. Tambahkan daun salam, lengkuas, garam, gula merah, dan kecap manis.
4. Tuang air kelapa hingga tempe terendam.
5. Masak dengan api sedang sampai air menyusut dan ramuan meresap.
6. Diamkan tempe dalam ramuan hingga agak dingin agar makin meresap.
7. Goreng tempe dalam minyak panas sampai kecokelatan.
8. Angkat dan tiriskan, tempe bacem siap disajikan.
Durasi dan Porsi
Waktu memasak: ±45 menit
Porsi: 3–4 orang
FAQ
1. Kenapa tempe bacem kurang meresap?
Biasanya lantaran waktu memasak terlalu sejenak alias air belum betul-betul menyusut. Pastikan dimasak sampai ramuan tinggal sedikit.
2. Bisa pakai air biasa sebagai pengganti air kelapa?
Bisa, tapi rasa bakal sedikit berbeda. Air kelapa bikin rasa lebih gurih dan khas.
3. Perlu didiamkan setelah direbus?
Iya, ini krusial agar ramuan makin masuk ke dalam tempe.
4. Berapa lama tempe bacem bisa disimpan?
Di lemari es bisa tahan 2–3 hari. Simpan sebelum digoreng agar lebih awet.
5. Bisa tidak tempe langsung dimakan tanpa digoreng?
Bisa, tapi biasanya lebih nikmat setelah digoreng lantaran ada tekstur renyah di luar.
Penulis: Anggita Cahya Rosdiana
Bio: Alumni Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang nan mempunyai pengalaman dalam penulisan tulisan ilmiah nan telah dipublikasikan, serta aktif menulis tulisan blog pribadi. Beberapa tulisan mengangkat topik kopi, seperti robusta dan arabika, sebagai bagian dari eksplorasi minat. Saat ini, tertarik mengembangkan penulisan pada topik kuliner dan lifestyle, serta mempunyai kesukaan pada bagian komunikasi digital.
(brl/tin)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·